HUKUM CIPRATAN AIR BEKAS MENYUCIKAN NAJIS assalamualaikum wr.wb mohon bantuan ilmunya..sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih.. saya membaca artikel pp. alkhoirot tentang was was najis. setelah membaca artikel tsb,saya ingin menanyakan ttg air mutanajjis. - apakah terkena air bekas basuhan najis yang berubah/bertambah volume nya (artinya air mutanajjis) itu juga berarti jika kena cipratannya akan najis? - apakah hukum air mutanajjis itu hanya tidak boleh digunakan untuk bersuci/artinya juga sama dengan kena najis, yaitu menajisi jika mengenai suatu benda.tempat? wassalamualaikum wr.wb JAWABAN Ada dua tipe dalam segi pertemuan air dengan najis. Pertama, najis datang/masuk dalam air. Kedua, air mengalir/dialirkan ke najis. Tipe pertama contohnya: najis masuk/mengenai air yang terkena najis dan kurang 2 qullah atau lebih dari 2 qullah tapi berubah sifatnya (warna, bau, rasa). Air ini disebut mutanajjis. Apabila air ini menyiprati sesuatu, baju misalnya, maka baju yg terkena cipratan itu najis dan tidak sah dibuat shalat. Cara menyucikannya adalah dengan membasuh tempat yang terkena najis tsb. Lebih detail: Najis dalam Islam Tipe yang kedua adalah air mengalir/dialirkan ke suatu najis dengan tujuan untuk menyucikan najis tersebut. Contoh, di masjid ada kotoran ayam atau kucing. Setelah kotoran itu dibuang (dengan tisu atau lainnya) sampai tidak ada bekasnya, lalu dialirkan air pada bekas najis tadi. Maka, bekas kotoran yang disucikan tadi menjadi suci dan airnyapun suci. Artinya, walaupun airnya mengalir ke mana-mana tidak membawa najis. Begitu juga kalau di masjid ada kencing, maka setelah kencing tersebut dikeringkan (dengan kain, dsb), lalu disiram dengan air suci, maka bekas najis itu menjadi suci begitu juga air bekas meyucikan najis tersebut juga suci. Tipe kedua ini berdasarkan pada hadits sahih di mana ada seorang Badui yang kencing di masjid. Nabi memerintahkan untuk menyiramkan air pada najis tersebut. Teks hadits terkait hal ini dan najis secara umum dapat dilihat di sini. Intinya: Air yang dipakai untuk menyucikan najis itu hukumnya suci apabila najisnya hilang dan larut di dalamnya. Adapun pendapat ulama dalam menanggapi hadits Badui kencing di masjid di atas adalah sbb: - As-Shan'ani dalam Subulus Salam: واعلم أن صب الماء على النجاسة كاف في تطهيرها إذا زالت النجاسة واستهلكت بالماء على أي وجه كان الصب Artinya: Mengalirkan air dengan cara apapun pada najis itu cukup untuk mensucikannya apabila benda najisnya hilang dan larut dengan air. - Al-Majd dalam Al-Muntaqi: وفيه دليل على أن النجاسة على الأرض إذا استهلكت بالماء فالأرض والماء طاهران ولا يكون ذلك أمرا بتكثير النجاسة في المسجد Artinya: (Hadits) ini menjadi dalil bahwa najis di tanah/bumi apabila larut dalam air maka tanah dan air itu menjadi suci. - Al-Aini dalam Umdah al-Qari mengutip pendapat ulama madzhab Syafi'i: استنبط الشافعي منه على أن الأرض إذا أصابتها نجاسة وصب عليها الماء تطهر وقال النووي ولا يشترط حفرها، وقال الرافعي إذا أصابت الأرض نجاسة فصب عليها من الماء ما يغمرها وتستهلك فيها النجاسة طهر Artinya: Madzhab Syafi'i berpendapat bahwa bumi yang terkena najis lalu dialirkan air padanya maka ia menjadi suci. Imam Nawawi berkata: Tidak disyaratkan untuk mengeruk tanahnya. Imam Rofi'i berkata: Apabila tanah/bumi terkena najis lalu disiram dengan air dan air itu terserap ke dalam tanah itu, maka suci.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar