Wirid Kaji merupakan metode penghayatan yang diberikan oleh guru kepada
murid-muridnya. Di bagian terdahulu penulis mengetengahkan manto-manto yang
dimulai dengan Kaji Karsani. Ada 7 (tujuh) tanggak atau bagian
pada manto Karsani. Ketujuh bagian tersebut saling berkait, tidak
terpisah-pisah. Guru menjelaskan kepada murid bahwa Karsani adalah “kekerasan
insan”. Pada dasarnya setiap manusia diberi oleh Tuhan kekuatan dalam dirinya,
di mana karsani tersebut ditiupkan oleh Malaikat Jibril lewat ubun-ubun
manusia.
Manusia (Adam) itu dijadikan Tuhan dari lumpur tanah hitam yang diambil
Malaikat Jibril di bawah Arsy. Dari lempung tanah tersebut dibentuk acuan
manusia (patung) manusia. Adam tidak langsung hidup begitu, ia mengalami
proses, beribu-ribu tahun dibiarkan tergeletak di tengah padang, berhujan
berpanas.
Suatu waktu Tuhan memanggil Jiblril. Tuhan bertanya kepada Jibril bagaimana
keadaan patung Adam tersebut. “Ya, Allah… Patung manusia yang bernama Adam
tersebut telah jadi. Namun dia belum bisa apa-apa. Walaupun telah Engkau
tiupkan rohmu pada dia tapi ia belum bisa berdiri, hanya bisa bergolek-golek ke
sana ke sini.”
“Ya, Aku tahu semua itu.”
“Ya Allah…Engkau Maha Tahu.”
“Adam harus diberi Karsani.”
“Apa itu Karsani, wahai Sang Khalik?”
“Karsani itu kekerasan manusia. Dengan Karsani itu manusia dapat melata
di muka bumi. Dan Adam akan mampu membentengi dirinya dari marabahaya,”
Qalalahu Ta’ala. Kemudian Ia perintahkan Jibril membuka telapak tangan, dan
meniupkan sesuatu ke telapak tangan malaikat tersebut. “Bawalah ini ke tempaan
Adam dan tiupkan ke ubun-ubunnya!”
Di tengah perjalanan Jibril bertemu dengan malaikat lain. Malaikat tersebut
bertanya apa tang dibawa oleh Jibril. “Allah menyebutnya Karsani,” sahut
Jibril. Tampaknya malaikat itu belum puas akan jawaban Jibril, ia lalu bertanya
lagi,”Karsani, benda apa itu. Boleh saya lihat, “ujar malaikat itu. Jibril
membuka genggaman tangannya. Tapi tidak apa-apa dalam telapak tangan tersebut.
Kemudian Jibril melanjutkan perjalanannya. Tiba di hadapan tempaan Adam, ia
tiupkan benda yang digenggamnya tadi ke ubun-ubun Adam. Namun tidak ada reaksi
apa-apa. Ia coba berkali-kali, hasilnya tetap nihil.
Jibril kembali menghadap Tuhan. Ia menuturkan apa yang dialaminya. Menuturkan
kegagalannya meniupkan karsani ke tubuh Adam.
“Engkau telah menyalahi perintah-Ku. Bukankah diperjalanan engkau telah membuka
telapak tanganmu?”
“Ampun hamba ya Rabbi. Hamba telah bersalah.”
Allah kembali memberikan karsani kepada Jibril. Dan berpesan agar jangan
membuka tangannya sampai di tujuan. Lantas tanpa membuang waktu lagi, Jibril
berkelabat ke tempaan Adam. Ia langsung tiupkan karsani ke ubun-ubun Adam.
Sekonyong-konyong tubuh Adam bergetar hebat. Dari ubun-ubun Adam menyembur
kilat dan membubung tinggi. Lalu kedengaran suara menggelegar. Dan karsani
terus menghunjam ke tubuh Adam sehingga membuat lubang kecil di bawah, yang
kemudian dikenal sebagai lubang dubur.
Adam kini bangkit. Benda-benda di sekitarnya beterbangan, pasir, kerikil,
batu-batuan berhamburan. Itulah kekuatan “Karsani”!. Tanaman yang ada di
sekitar lokasi tersebut terbakar. Saat itu petir membahana, di mana petir itu
diyakini berasal dari serpihan ubun-ubun Adam ketika dimasuki Karsani.
Kisah ini menjadi acuan bagi mereka yang mempelajari Karsani. Mereka
yang merapalkan 7 tanggak (7 manto) Karsani, sekujur tubuhnya
bergetar dan mengeras bagai besi. Darahnya berpacu kencang.
Setelah guru yakin bahwa muridnya telah berhasil menerima Karsani maka
si murid disuruh mempersiapkan alat perangkat yaitu seekor ayam jantan berbulu
biring (berbulu hitam bercampur kuning dan merah). Menjelang tengah malam sang
guru melakukan upacara penderaan. Murid didera dengan pelepah keladi merah
sampai keladi tersebut hancur di tubuhnya. Selanjutnya ayam jantan itu dibedah,
dijelaskan oleh guru tali menali jantung, hati dan empedu. Kemudian ayam
tersebut dilepaskan. Biasanya ayam yang telah dibedah itu dibiarkan berjalan.
Semakin kuat daya tahan ayam itu semakin kuat Karsani bercokol di tubuh
si murid.
Akhirnya bagi murid yang telah melalui proses tersebut, guru segera membacakan
kembali 7 tanggak manto Karsani. Guru dan murid berpunggungan. Selesai
acara itu si murid berangkat tanpa menoleh. Dia berpantang bertemu dengan guru
selama tujuh hari. Itulah yang disebut “Pantang Tujuh” Bila kedua orang
tersebut pada masa tenggang waktu itu maka akan terjadi musibah (Seperti yang
saya terima dari para guru)
Biasanya setelah “Pantang Tujuh” berakhir maka si murid akan kembali menemui
(boleh) guru atau datang ke perguruannya. Ia dapat melanjutkan Kaji
(pelajaran) baru. Guru menurunkan lagi beberapa manto kepada si murid. Wawasan
murid semakin terbuka dan mendalam.
Siapa nama malaikat yg mahu melihat kursani..
BalasHapusAda nama besi di surga..